

Bumi Asemarang banyak terkena bencana dan pagebluk yang disebabkan karena ulah keserakahan dan keinginan dari sosok Perempuan cantik yang sakti Mandraguna Dewi Dowo Renjani, yang saat itu ingin menguasai ilmu kanuragan dan menguasai seluruh kerajaan Demak, karena keinginannya itulah Dewi Dowo Renjani yang berada di desa Wonosari menghalalkan segala cara dengan menganut ilmu hitam dan menyengsarakan seluruh masyarakat di wilayah Asemarang dengan menyebarkan segala ilmu teluh dan pagebluk hanya karena ingin sebuah pengakuan.
Dewi Dowo renjani juga merupakan punggawa kasultanan Demak yang sangat disegani karena seorang Putri yang cantic dan mempunyai kesaktian yang pilih tanding, disaat itu sang Dewi menghadiri satu upacara besar yaitu jamasam pusaka kasultanan Demak Bintara yang diprakarsai oleh Sultan Demak dan seluruh punggawa kerajaan sebagai pelaksana jamasan pusaka adalah Sunan Muria, dikarenakan para Wali yang lain sedang ada tugas yang lain, disaat melihat keagungan dan aura yang terpancar dari pusaka pusaka kasultanan Demak, Dewi Dowo renjani merasa takjub dan berkeinginan untuk memilikinya diantaranya yaitu pusaka kyai Pasupati dan Kyai sengkelat.
Setelah jamasan selesai dilakukan dan para punggawa kerajaan melakukan prosesi budaya yang lain maka disaat itulah kesempatan dipergunakan oleh Nyai Brintik untuk mengambil pusaka Kasultanan Demak, para punggawa kerajaan merasa gempar ketika mendengar bahwa pusaka kasultanan Demak telah dicuri oleh Dewi Dowo Renjani, hingga Sultan Patah mengutus punggawa kerajaan untuk mengambil kembali pusaka yang telah dicuri Kesombongan dan keangkuhan Dewi Dowo Renjani semakin Menjadi ketika sudah Menguasai Keris kyai sengkelat dan Kyai Pasopati hingga terus menyebarkan bencana dan pagebluk di Bumi Asemarang, hingga akhirnya Sunan Kalijogo Bertindak dan berusaha meredam kesombongan Dewi Dowo Renjani , atas usahanya itu Sunan Kalijaga berhasil menyadarkan Dewi Dowo Renjani yang jahat menjadi sadar dan baik dan menjadi Murid Sunan Kalijaga ikut mensiarkan agama Islam Di Bumi Asemarang.
Sepenggal kisah yang sangat melegenda dari Kota Semarang yang disajikan dalam format drama tari berjudul “Sumilaking Pedut Asemarang” ini sukses membuat merinding para penonton dalam gelaran Pentas Duta Seni Kota Semarang yang dipergelarkan di Anjungan Jawa Tengah TMII pada Minggu, 23 Juni 2024 lalu.


Kegiatan Pentas Duta Seni Kota Semarang diawali dengan kegiatan praacara menampilkan tari-tarian khas Kota Semarang dan pembagian souvenir bagi pengunjung yang berada di Plaza Kori Museum Indonesia TMII. Sambutan para wisatawan sangat meriah dan antusias dalam menyaksikan pementasan demi pementasan yang disajikan oleh para seniman muda dari Kota Semarang itu.



Kegiatan inti Pentas Duta Seni Kota Semarang diawali dengan penampilan tari-tarian diantaranya tari Kelana Topeng, Tari Rancak Denok Semarang, dan Tari Laskar Muda Semarang yang disajikan oleh para penari anak-anak dan remaja.


Acara seremonial diawali dengan pidato sambutan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno, SE., MM ,dilanjutkan sambutan dar Paguyuban Wong Semarang, sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang dan diakhiri dengan bertukar cenderamata. Kegiatan ini dihadiri oleh unsur paguyuban perantau Kota Semarang yang tergabung dalam Pawon Semar, Paguyuban Jawa Tengah, dan pengunjung wisatawan umum.



Kegiatan Pentas Duta Seni Kota Semarang ini juga dimeriahkan dengan adanya pameran ekonomi kreatif yang menyajikan berbagai produk unik khas Semarang diantaranya produk fashion, produk makanan seperti tahu bakso, lumpia, soto Semarang, dan sebagainya.



