

Kota Tegal menggelar Sendratari Kardinah “Mulyaning Nuswantara” hingga menyulap area Anjungan Jawa Tengah TMII menjadi seakan-akan adalah teras Kota Tegal. Betapa tidak, seluruh area di tempat ini dipenuhi dengan tenda-tenda yang memamerkan potensi Kota Tegal dari segi kuliner, kerajinan, UMKM, bahkan pula terdapat pemeriksaan kesehatan gratis dan layanan kependudukan. Kegiatan ini merupakan rangkaian panjang dari kegiatan Pentas Duta Seni Kota Tegal tahun 2025 yang diselenggarakan Minggu, 6 Oktober 2024 silam.



Kegiatan Pentas Duta Seni Kota Tegal diawali dengan penampilan pembuka dari Paduan Suara Pemkot Kota Tegal Gita Bahana Sebayu kemudian dilanjutkan pidato-pidato sambutan yang terdiri dari sambutan Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah Sarido, S.STP., M.Si, sambutan Perkumpulan Perantau Jawa Tengah KRT. Drs. Leles Sudarmanto, MM., MBA. , dan sambutan Pj Walikota Tegal Dadang Somantri, ATD, MT. Hal menarik manakala di tengah sambutan selamat datangnya, Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah Sarido, S.STP., M.Si melantunkan parikan (pantun Jawa) sambil memainkan gitar dengan lihai. Mengakhiri rangkaian sambutan dilanjutkan dengan saling bertukar cenderamata antara Pemerintah Kota Tegal dengan Badan Penghubung




Karya tari Kardinah Mulyaning Nuswantara yang disajikan oleh seniman seniwati yang tergabung dalam Sanggar Tari Perwitasari ini berfokus pada kisah hidup seorang pahlawan wanita di Kota Tegal, Jawa Tengah. Ia turut memperjuangkan hak-hak dan kesejateraan masyarakat Kota Tegal di masanya. Gerak dan ekspresi tari karya ini menggambarkan perjalanan Kardinah dari seorang putri bangsawan yang memilih jalan pengabdian untuk rakyat. Perjuangan Kardinah dalam peningkatan nilai-nilai budaya di Kota Tegal yaitu mengembangkan batik Tegal, mengedukasi serta mengajak pengrajin perak untuk giat berkarya, dan memperkaya ragam kuliner di kota Tegal.
Kardinah Mulyaning Nuswantara menyoroti semangat pantang menyerah Kardinah dalam menghadapi tantangan sosial dan budaya yang membatasi peran perempuan pada masa itu. Musik karya tari ini menggunakan instrumen gamelan dan rebana, sehingga penonton dapat merasakan perjuangan Kardinah yang penuh pengorbanan namun berbuah manis bagi perkembangan Kota Tegal.
Dampak terhadap perkembangan sosisal budaya di Kota Tegal antara lain peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesetaraan perempuan, menginspirasi generasi muda untuk melanjutkan perjuangan Kardinah, dan menumbuhkan minat masyakarat untuk berkreasi di bidang seni. Karya Kardinah Mulyaning Nuswantara menjadi penghormatan dan pengingat akan betapa besar peran seorang perempuan dalam membangun kota Tegal.






