


PENTAS PRESENSIA Sebuah pertunjukan seni tari, karawitan, dan wayang kulit dipergelarkan langsung di hadapan para siswa sekolah dengan format pertunjukan yang tidak biasa. Benar saja, pertunjukan kali ini langsung memberikan kesempatan para audiens untuk mencoba memeragakan apa yang dipentaskan.
Para penonton yang mayoritas adalah anak usia sekolah SMP ini secara langsung diberi kesempatan untuk mencoba menabuh gamelan, sekilas memeragakan vokabuler gerak tari, dan mencoba memainkan wayang kulit dengan dipandu oleh para instruktur.
Pertunjukan ini berlangsung dari pukul 9.00 WIB hingga 12.00 WIB bertempat di Anjungan Jawa Tengah TMII. Pentas Presensia adalah akronim dari Pengenalan, Aktualisasi, dan Apresiasi Seni Siswa Indonesia yang mana kegiatan ini merupakan aksi perubahan kualitas pelayanan publik yang diinisiasi oleh Menuk Indriastuti, S.Pd selaku Kasubbid Promosi Informasi Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah sebagai terobosan baru dalam menyebarluaskan dan mempromosikan kesenian lokal Jawa Tengah dalam rangka pelestarian seni budaya yang berkaitan pula dengan Program P5 (Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang saat ini sedang dilaksanakan oleh para pelajar.

Pentas Presensia ini digelar perdana dan secara langsung dilaunching oleh Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah Sarido, S.STP., M.Si. Dalam sambutannya ia menyampaikan sebuah pesan optimis bahwa dengan memperkenalkan seni budaya lokal Indonesia kepada generasi muda maka generasi penerus bangsa nanti akan memiliki nilai kepribadian bangsa Indonesia yang kokoh serta menjunjung nilai-nilai luhur bangsa yang adi luhung. Tak lupa ia juga berpesan kepada para seniman dan seniwati yang hadir untuk tetap bersemangat dalam melestarian seni budaya lokal Indonesia. Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur Utama PT Bumi Visatanda Indonesia selaku pengelola TMII, para budayawan dan seniman, para Kepala Anjungan Daerah, para siswa dari sekolah SMP N 81, SMP N 160, SMP N 192, SMP N 222, dan SMP N 259 Jakarta, dan para pengunjung umum.


Sesaat setelah acara seremonial, acara dilanjutkan dengan tajuk mengenal seni karawitan. Pada sesi ini anak-anak diperkenalkan dengan musik gamelan Jawa dengan tiga tahap, yaitu pertama menyaksikan tampilan musik gamelan yang melantunkan Tembang Dolanan “Gundhul-gundhul Pacul”, tahap kedua para siswa diajak menyanyi bersama Tembang Dolanan “Gundhul-gundhul Pacul”, dan tahap terakhir para peserta dari lima sekolah jenjang SMP di sekitaran Jakarta ini diajak mencoba menabuh gamelan dengan panduan dari instruktur. Para peserta yang notabene adalah masyarakat Jakarta yang jarang atau bahkan hampir tidak pernah melihat gamelan secara langsung tampak sangat antusias mengikuti setiap tahapan pada sesi pertama ini.


Sesi kedua acara Pentas Presensia bertajuk mengenal Seni Tari dan Wayang Kulit, diawali dengan menyaksikan tampilan wayang kulit singkat yang dilanjutkan dengan tampilan Fragmen Tari Perang Kembang. Para siswa cukup antusias melihat pertunjukan singkat namun sangat atraktif ini.




Sama dengan sesi sebelumnya, setelah menyaksikan pertunjukan wayang kulit dan fragmen tari Perang Kembang, para siswa diberikan kesempatan untuk belajar langsung memeragakan vokabuler gerak tari Cakil dan Tari Bambangan yang langsung dipandu oleh para penari. Pembawaan penari dalam mengajak siswa memeragakan tari yang santai dan terkadang menggelitik membuat para siswa antusias mengikuti sesi ini. Sesaat setelah memeragakan sedikit vokabuler gerak tari, pada sesi beikutnya para siswa diajak untuk mengenal wayang kulit. Diawali dengan para Punakawan Wayang Orang menari sambil membawa tokoh-tokoh punakawan wayang kulit, sesi ini para siswa dikenalkan dengan karakter-karakter tokoh wayang yang kemudian dilanjutkan dengan praktek memainkan wayang kulit yang dipandu oleh dalang sebagai instruktur. Siswa-siswa tampak sangat tertarik mangikuti sesi ini, tampak dari keaktifan dan semangat anak-anak mengikuti setiap instruksi dari dalang. Para peserta yang berkesempatan menyampaikan kesannya, menyampaikan bahwa belum pernah samasekali memegang langsung wayang kulit. Ada pula siswa yang menyampaikan kemudian menjadi tertarik dan menyukai wayang kulit setelah menyaksikan dari dekat, memegang, dan sedikit belajar memainkan wayang kulit.


Seluruh rangkaian kegiatan Pentas Presensia ditutup dengan flashmob menari bersama tari Pelajar Pancasila dengan susunan gerak yang telah dibuat oleh anak-anak sendiri secara berkelompok di sekolah masing-masing. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kesan positif serta menumbuhkan kecintaan para generasi muda untuk mencintai seni budaya lokal yang berpangkal pada kelestarian seni budaya Indonesia.



