Pergelaran Kethoprak dari Kabupaten Grobogan nyatanya masih eksis hingga saat ini baik pementasan-pementasan di daerah asalnya maupun pergelaran yang diselenggarakan di luar daerah seperti pada Pergelaran Kethoprak berjudul “Brubuh Mojopahit” yang dipergelarakan pada Minggu, 20 Agustus 2023 bertempat di Pendopo Anjungan Jawa Tengah TMII

Pergelaran ini ditampilkan pada Kegiatan Pentas Duta Seni Kabupaten Grobogan Tahun 2023 yang merupakan agenda rutin tahunan pemerintah Kabupaten/ Kota se- Jawa Tengah yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Badan Penghubung. Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah Sarido, S.STP., M.Si dan dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Grobogan, Masyarakat Perantauan Grobogan, dan para wisatawan pengunjung TMII.



Sajian yang ditampilkan pada pergelaran ini diantaranya Karya Tari Uyah Bledug Kuwu yaitu sebuah karya tari yang memberikan gambaran proses pembuatan garam dari semburan lumpur Bledug Kuwu oleh masyarakat Purwodadi dan dilanjutkan dengan atraksi Gondorio yaitu para penari melakukan gerak cukup berbahaya yang mana penari pria mengangkat penari wanita dengan gerak-gerak yang akrobatik. Pertunjukan inti dari kegiatan ini adalah sajian Kethoprak Berjudul “Brubuh Mojopahit” yang dimainkan secara kolaboratif antara para pelaku seniman kethoprak profesional dengan para muda-mudi sebagai calon penerus estafet kebudayaan mendatang.



Pertunjukan Kethoprak ini sangat memukau penonton dikarenakan setiap adegan-adegannya telah disusun sedemikian menarik, sebagai salah satu contoh yaitu kemampuan akting dan olah vokal dari para pemain senior yang sudah sangat mumpuni dikolaborasikan dengan atraksi pencak silat dalam adegan peperangan yang dimainkan oleh para pemuda
Kegiatan Pentas Duta Seni Kabupaten/ Kota se- Jawa Tengah ini diharapkan mampu memberikan ruang bagi para pelaku seni untuk lebih mengembangakan kreativitas dalam menyusun sebuah karya seni dalam proses penyebarluasan kepada masyarakat umum dan mampu mendorong masyarakat untuk lebih mencintai kebudayaan lokal sebagai benteng diri dari kebudayaan asing yang belum tentu sesuai dengan jati diri bangsa.



