


Aroma kelezatan kuliner tradisional dan keagungan seni adiluhung menyatu dalam harmoni yang sempurna di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pada Sabtu, 11 Juli 2026, Pendopo Agung anjungan disulap menjadi panggung megah yang mempertemukan diplomasi rasa dan diplomasi budaya melalui gelaran akbar Festival Olahan Pangan Jawa Tengah 2026 yang dipuncaki oleh pementasan spektakuler Sendratari Ramayana.



Mengangkat lakon “Lampahing Kasetyan”—sebuah filosofi mendalam tentang “lelaku kesetiaan” dalam mengarungi samudra ujian kehidupan—sajian visual ini merajut kembali benang-benang epik perjalanan cinta, pengorbanan, dan keteguhan hati antara Rama, Sinta, dan Rahwana.
Pertunjukan yang berlangsung maraton selama dua jam ini merupakan hasil kurasi artistik dari para seniman Jawa Tengah yang berdomisili di Jakarta. Pertunjukan ini digawangi oleh sutradara Gendo Kusnadi, panggung bergerak dinamis menerjemahkan naskah karya Muhammad Naufal Fawwaz. Bertindak selaku Art Director Singgih Wiyoto Putro memberikan sentuhan artistik yang menarik, sementara setiap segmen gerak tubuh penari dikoordinasikan dengan presisi oleh Penata Tari Cipto Wijoyo. Seluruh emosi pertunjukan digerakkan secara magis melalui denyut ritme gamelan yang dikomposisikan oleh Penata Iringan Bagiyanto Siswoyo.




Sebagai pembuka, penonton disuguhi kelembutan Tari Gambyong yang menyimbolkan kehangatan sambutan khas masyarakat Jawa, disusul dengan kegagahan Tari Bromastro yang membakar semangat penonton, sebelum akhirnya masuk ke menu utama: Lampahing Kasetyan.



Kemegahan ini tidak lahir begitu saja. Panggung dihidupkan oleh kolaborasi kolosal 48 penari berbakat dan 28 pengrawit yang seluruhnya merupakan mutiara-mutiara potensial dari Diklat Seni Tari dan Seni Karawitan Anjungan Jawa Tengah TMII. Dedikasi mereka membuktikan bahwa regenerasi seni tradisi di tanah rantau tetap menyala dengan megah.



Acara ini turut dihadiri oleh jajaran tokoh penting, di antaranya Plt. Kepala Badan Penghubung Jawa Tengah beserta pejabat struktural, Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah, serta Wakil Bupati Bengkalis, yang hadir memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif kolaboratif ini.



Lebih dari sekadar tontonan akhir pekan, perhelatan ini mengemban misi mulia. Kegiatan ini dirancang sebagai instrumen diplomasi budaya yang strategis, upaya konkret pelestarian seni tradisi adiluhung, sekaligus menjadi magnet pemikat yang memeriahkan Festival Olahan Pangan Jawa Tengah. Melalui sinergi rasa kuliner dan estetika seni, Jawa Tengah kembali sukses meneguhkan posisinya sebagai episentrum kebudayaan yang tak lekang oleh waktu di panggung nasional.




