

Lakon Pak Kijo Tani merupakan salah satu cerita pakem dalam pertunjukan Emprak Kuangsan. Cerita ini menggambarkan perjalanan hidup Syaid Njambongan, seorang tokoh yang dikenal sebagai pendakwah, pekerja keras, sekaligus pendiri tradisi Emprak. Cerita dimulai dari wilayah Kemadu. Syaid Njambongan hidup bersama dua istrinya, yaitu Biang Sujinah dan Biang Sarjinah. Dari pernikahan dengan istri pertamanya, ia memiliki seorang anak bernama Kijo. Suatu hari, Syaid berpamitan kepada kedua istrinya untuk pergi mencari pekerjaan. Ia tidak menjelaskan dengan pasti ke mana akan pergi. Sebelum berangkat, ia berpesan apabila dalam waktu empat atau lima bulan dirinya tidak pulang, keluarganya harus mencarinya. Jika masih hidup, kabarkan keadaannya. Jika sudah meninggal, kuburkan dengan layak.


Perjalanan kemudian membawa Syaid Njambongan ke Njangkungan. Di tempat itu ia bekerja membuat perahu. Namun pekerjaan tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Musim baratan membuat pekerjaan membuat perahu menjadi sulit dilakukan. Keadaan itu memaksanya beralih profesi. Ia kemudian meninggalkan pekerjaan lamanya dan menjadi petani. Beberapa bulan berlalu. Padi yang ditanam telah tumbuh tinggi. Syaid Njambongan menetap dan bertani di Kuangsan. Karena lama tidak pulang, kedua istrinya menyusul ke tempat tersebut. Pertemuan mereka tidak berlangsung tenang. Dua perempuan itu justru berebut sawah dan memperdebatkan bagian masing-masing. Di sinilah unsur guyonan khas Emprak muncul. Perebutan sawah tidak disampaikan dengan cara serius, tetapi melalui dialog jenaka, celetukan rakyat, dan permainan kata. Tubuh Pak Kijo pun dijadikan bahan pembagian warisan secara lucu. Bagian atas, bagian bawah, siapa yang memberi makan, siapa yang mendapat bagian.


Sepenggal kisah dari tanah Lasem diboyong langsung ke TMII Jakarta pada perhelatan Gelar Seni Budaya Kabupaten Rembang yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada Minggu, 17 Mei 2026 lalu. Pergelaran yang disajikan lebih dari 90 menit ini menampilkan tim kesenian Emprak dari Sanggar Wahyu Suko Budoyo asal Kuangsan Rembang. Kegiatan ini dihadiri oleh Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Perwakilan Paguyuban Jawa Tengah dan Himpunan Masyarakat Rembang, dan para pengunjung umum. Niken Rahardina, S.IP., M.Si selaku Kepala Sub Bid Anjungan hadir mewakili Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah untuk menyampaikan sambutan selamat datang pada acara ini.


Keseruan acara ini diawali dengan pentas pra acara yang digelar di area Plaza Kori Agung Museum Indonesia TMII dengan menampilkan kesenian Thong Thongklek Purboyo yang dilanjutkan dengan arak-arakan di area TMII menuju Anjungan Jawa Tengah dengan mengendarai Pangling (Panggung Keliling). Tak hanya sampai di situ, semakin menambah semarak acara ini juga tersaji hidangan khas Rembang gratis untuk pengunjung diantaranya ada lontong tuyuhan, kopi lelet, dan berbagai makanan ringan yang unik serta juga terdapat pameran produk UMKM Rembang yang menyediakan batik Lasem dan berbagai olahan makanan khas.





