

Sejak lahir, Baruklinting sudah dianggap sebagai aib oleh masyarakat. Tubuhnya yang bersisik, rupa yang dianggap menyeramkan, dan asal-usulnya yang misterius membuatnya dijauhi, dihina, bahkan dianiaya. Anak itu tumbuh dalam kesendirian, tak pernah merasakan kasih sayang dari sesama. Setiap langkahnya diiringi tatapan jijik, setiap kata yang ia ucapkan dibalas dengan cemoohan. Rasisme dan perundungan menjadi makanannya sehari-hari, seolah ia bukan bagian dari dunia manusia. Namun, dalam kesedihannya, ia menyimpan sebuah kekuatan besar-sebuah karma yang kelak akan menyucikan segala dosa yang telah dilemparkan kepadanya.


Ketika dewasa, Baruklinting kembali ke desa yang dulu menolaknya, yatu desa Dadapan. Kali ini ia kembali berwujud sebagai bocah tak berdaya, ia datang sebagai pembawa keseimbangan. Ia memberi kesempatan bagi mereka untuk berubah, tetapi kesombongan masih menguasai hati mereka. Maka, karma bekerja. Dengan mencabut lidi yang ia tancapkan, air meluap dari tanah, menenggelamkan segala keburukan dalam arus yang tak terbendung. Rawa Pening pun lahir sebagai cermin dari karma suci-Suddha Karma Bukan sekadar pembalasan, tetapi pemurnian dari kebencian yang telah terlalu lama mengakar. Baruklinting tidak membalas dendam, ia han mengembalikan apa yang dunia berikan padanya, dengan keseimbangan yang mutlak, la menyeimbangkan alam yang telah rusak.


Kini Kawasan Dusun Dadapan yang telah digenangi air dikenal dengan nama Rawa Pening. Kawasan ini menjadi berkah bagi penduduk sekitarnya, baik sebagai perairan yang penuh dengan ikan, enceng gondoknya yang bisa menjadi berbagai kerajinan dari sandal hingga kursi, Pariwisata air yang menyedot berbagai kunjungan wisatawan local maupun manca, juga tumbuhnya warung-warung makan yang menawarkan berbagai menu menarik. Baru Klinting kini menjadi tokoh yang menjaga keseimbangan alam dan menghancurkan segala kejahatan dan kekotoran sifat manusia.

Sekilas kisah melegenda dari Kabupaten Semarang sukses menyedot perhatian penonton pada Pergelaran Pentas Duta Seni Kabupaten Semarang dengan menyajikan sendratari “Baruklinting Suddha Karma” di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini “Indonesia Indah” Minggu, 18 Mei 2025 silam.

Kabupaten Semarang sebagai salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki Desa Wisata terbanyak ini tampil di TMII menebarkan pesonanya dengan memamerkan potensi-potensi unggulan daerahnya, diantaranya seni pertunjukan tradisional, produk UMKM berupa makanan dan kerajinan, serta memakerkan potensi kekayaan pariwisatanya.

Kegiatan yang berlangsung sejak Minggu pagi ini dihadiri oleh berbagai elemen diantaranya hadir secara langsung Wakil Bupati Semarang, Sekretaris Daerah Kab Semarang, Ketua DPRD, serta para Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemkab Semarang. Hadir pula menyampaikan sambutan selamat datang perwakilan Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah Risturino, S.IP., MM, perwakilan Paguyuban Perantau Jawa Tengah Agus HIdayanto, serta diramaikan dengan hadirnya para wisatawan domestik maupun mancanegara.





