Nambak Tresna Netepi Setya

Dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-74 Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah bersama SWARGALOKA menggelar Wayang Orang bertajuk “Nambak Tresna Netepi Setya” Sabtu (17/08) 2019 di Panggung Ojo Dumeh Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah.

Peristiwa istana Alengka dibakar habis oleh hanoman tidak membuat Rahwana tak gentar dalam usahanya meminang Shinta. Untuk itulah Rama Wijaya memutuskan menggempur Alengka lalu memerintahkan Narpati Sugriwa pimpinan tertinggi pasukan kera agar menyiapkan pasukan kera. Untuk sampai di Alengka harus melewati lautan luas, atas saran Wibisana (Adik Rahwana) yang kini mengabdi kepada Rama Wijaya lautan luas harus ditambak (dibendung) agar bisa dilewati oleh pasukan kera agar bisa sampai ke daratan Alengka. Lautan luas telah terbendung namun selalu runtuh karena dihancurkan dari dalam laut oleh pasukan Rahwana dibawah komando raksasa Yuyu Rumpung. Bahkan runtuhnya tambak sempat muncul kecurigaan disengaja oleh Wibisana hingga membuat Sugriwa murka, namun semuanya bisa diselesaikan oleh kearifan Rama Wijaya.

Hingga pada akhirnya tambak usai dibangun oleh pasukan kera secara bergotong royong dan sampailah mereka di pesisir Alengka. Pertempuran sengit tak terelakkan antara pasukan Alengka yang mulai terdesak setelah banyaknyua Senopati Alengka yang gugur. Pada akhirnya Rahwana maju menghadapi Rama Wijaya dalam pertempuran sengit. “Suro Sudira Jayaning Kang Rat Swuh Brasta tekaping olah Darmastuti”. Rahwana gugur dan Rama Meneggakkan keadilan.

Melestarikan makanan tradisional di era 4.0

Sroto Klamud

Jakarta, (27/7) 2019 Sroto Klamud Ciwel meraih Juara I dalam Kategori Makanan Utama Berbahan Non Beras di ajang Lomba Makanan Khas, Kopi, Kain dan Kerajinan Provinsi Jawa Tengah 2019 di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini “Indonesia Indah”.

Inovasi Sroto kelapa muda alias Sroto Klamud yang dipadukan dengan ciwel sebagai pengganti ketupatnya. Untuk pendampingnya disajikan Wedang Nipah yang merupakan perpaduan air nira / badheg dan rempah-rempah. Sediyono menambahkan hal itu juga membuktikan bahwa Purbalingga bisa mengkreasikan bahan makanan non beras yang enak dan menjual. Makanan tradisional tetap menjadi primadona di tengah maraknya makanan kekinian, selain menyehatkan makanan ini juga enak! Purbalingga layak menjadi juara. Selamat ya!